Dilema-dilema Pemrograman Bagi Mahasiswa TI

Mata kuliah pemrograman pada program studi Teknik Informatika (TI) secara umum (setelah saya amati) merupakan mata kuliah yang sulit untuk dimengerti. Semuanya seolah sulit, entah kenapa. Letak kesulitannya pun bermacam-macam. Apakah di logikanya, apa di penulisan bahasa pemrogramannya, atau di sisi lain yang belum diperhatikan.

Padahal, zaman sekarang ini, memrogram komputer tidak lagi menjadi tugas yang begitu sulit. Saya mendengar cerita tentang pemrograman zaman dulu oleh dosen saya pagi ini. Beliau menceritakan pernah menggunakan COBOL yang rumit penulisannya, FORTRAN yang bahkan posisi baris dan kolom berpengaruh pada kebenaran program, dan lainnya. Mereka beroperasi dengan teks di layar, bukan dengan tampilan grafis.

Zaman dulu belum ada Integrated Development Environment (IDE) seperti Visual Studio, NetBeans, atau lainnya. Semuanya menggunakan plain text editor sederhana. Tidak ada highlighter yang bisa membedakan mana keyword dan mana variabel. Tidak ada fitur code completion dan intellisense yang bisa membantu mempermudah pengetikan kode. Tidak ada debug yang bisa membantu memecahkan kesalahan algoritma.

Bahkan dari segi program, segalanya begitu berbeda. Dengan drag and drop saja, kini anak SMP sekalipun bisa membuat model aplikasi dengan tampilan Graphical User Interface yang menarik. Sesuatu yang rumit untuk dilakukan pada zaman dahulu.

Dan masih banyak lagi.

Jadi, bagaimana?

Secara umum, saya kira para mahasiswa TI pada zaman sekarang ini harus banyak bersyukur. Kini memrogram begitu mudah dengan fitur di sana sini yang begitu membantu.

Namun, ada kendala lain.

Saingan begitu sulit! Apakah kompetitor mahasiswa TI berasal dari kalangan mereka saja? Tidak. Lawan mereka bahkan anak SMP.

Ketersediaan informasi di internet membuat semua orang bisa mengakses apapun. Saingan mereka juga berasal dari kalangan senior dan kalangan ilmuwan. Skill TI yang didapatkan secara formal di bangku kuliah sama sekali tidak memberikan mahasiswa TI skill lain yang berbeda. Sedangkan, untuk mahasiswa fisika (elektro dan kawan-kawan) dan matematika misalnya, mereka diberikan pengetahuan tentang TI. Kemampuan mereka menjadi lebih luar biasa.

Seolah-olah saya menulis ini karena saya sudah begitu hebat. Tidak sama sekali. Ini adalah bentuk kegalauan. Ada banyak tantangan di masa depan yang harus dipersiapkan cara menghadapinya dari sekarang. Skill pemrograman adalah salah satu yang cukup berperan menurut saya. Kenapa? Karena wujud nyata dari karya mahasiswa TI adalah software, sesuatu yang datang dari coding.

Kini mahasiswa TI dihadapkan dengan berbagai macam istilah dan metode. Semua harus diketahui.

Ini merupakan sesuatu yang harus dipikirkan dengan baik.

Pemrograman hanya salah satu hal saja yang dipelajari di TI. Tapi, dari pemrograman ada begitu banyak hal yang bisa diciptakan. Artificial Intelligence, Graphic Processing, Language Processing, dan hal lain yang sangat bermanfaat. Bagi saya, pemrograman adalah salah satu kewajiban skill.

Semua kesulitan itu ada di depan mata mahasiswa TI. Kini, tinggal bagaimana menyikapinya. Apapun akan menjadi masalah jika tidak ditindaklanjuti, dan tantangan ini harus dilewati untuk menjadi pakar TI yang sukses, menurut pendapat saya.

Anda mungkin punya opini. Silakan berkomentar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s