Mahasiswa TI vs Otodidak IT, Mana yang Menang?

Ini hanya cerita tentang sedikit pemikiran saya saja, seorang mahasiswa Teknik Informatika yang sedang memikirkan nasib akademik sata ke depan. Pemikiran ini tiba-tiba saja muncul saat saya mempelajari Basis Data pagi ini.

Apa tema utama saya dalam tulisan ini? Ini dia:

Mengapa mahasiswa Teknik Informatika (TI) sering dikalahkan otodidak Information Technology (IT)?

Pendapat saya:

  1. IT merupakan ilmu yang accessibility-nya sangat luas. Siapapun bisa belajar IT karena tidak membutuhkan keahlian khusus. Nyaris seluruh masyarakat menggunakan IT, minimal untuk mengetik di Ms. Word.
  2. IT adalah ilmu yang menarik untuk dipelajari.
  3. Buku-buku tentang IT banyak beredar di masyarakat, dan ilmu IT bukan ilmu yang benar-benar rumit jika dilihat sekilas, sehingga banyak orang tertarik.
  4. Mahasiswa TI sering disibukkan dengan hal-hal rumit yang sering membuat putus asa, sehingga kehilangan keinginan untuk mendalami suatu perkara lebih jauh.
  5. Buku-buku teks resmi utama TI banyak beredar dalam Bahasa Inggris. Sangat sedikit buku yang membahas ilmu TI secara mendalam dan lengkap yang dibuat oleh orang Indonesia dan berbahasa Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari ketebalan bukunya. Buku-buku TI yang dibuat di Indonesia, yang membahas Algoritma C misalnya, paling hanya sekitar 200 – 300 halaman. Saya melihat buku “C++ The Complete Reference”, dan banyak halamannya adalah 1000 lebih. Akibatnya, mahasiswa TI jadi malas. Padahal, buku-buku asing banyak mencantumkan ilmu-ilmu fundamental yang harus dimiliki oleh mahasiswa TI.
  6. Banyak kursus-kursus singkat tentang IT.
  7. Apa lagi ya, masih banyak mungkin…

Apa bukti dari pendapat saya? Contoh sederhana. Tokoh-tokoh IT Indonesia bukan lulusan Teknik Informatika. Misalnya: Bapak Onno W. Purbo (Penulis TI), Bapak Budi Raharjo (penulis banyak buku-buku TI), beliau-beliau ini merupakan lulusan elektro, bukan TI.

Saya sendiri, sempat merasakan menjadi otodidak, dan menjadi otodidak IT tidaklah sulit. Apa modal saya? Kesukaan pada Fisika dan Matematika, dan internet. Saya menguasai Bahasa Pascal, dari deklarasi program sampai konsep prosedur dan fungsi sejak kelas IX SMP. Mengerti C++ dari deklarasi sampai pointer sejak kelas XI SMA. Menguasai dasar-dasar pemrograman Web sejak kelas XI SMA juga. Ini bukan masalah sok-sok’an, hanya sebagai contoh saja. Saya, dengan keinginan belajar standar bisa mempelajari hal-hal di atas. Di luar sana, ada banyak yang lebih luar biasa pemahamannya tentang IT dan umurnya masih sangat muda.

Acara e-lifestyle di Metro TV pernah menayangkan tentang anak kelas 4 SD yang membuat e-learning interaktif dengan Flash. Well, bukankah ini luar biasa?

Lalu, kalau begini buat apa ada TI?

Di sinilah masalahnya. Saya menulis tulisan ini sebenarnya dikhususkan untuk mahasiswa TI. Jika mungkin pembaca bukan mahasiswa TI, ini bisa menjadi motivasi yang bagus (mungkin).

Otodidak biasa, dia tidak akan memahami teori secara keseluruhan dan komprehensif. Ketika bertemu pada kasus-kasus konseptual, otodidak cenderung tidak bisa berbuat banyak. Saya menemukan hal ini saat mempelajari Web Usability. Begitu banyak konsep-konsep yang belum saya miliki untuk membuat sebuah website misalnya. Saat saya otodidak, saya membuat website hanya untuk diri saya saja, tanpa pertimbangan konseptual apapun. Secara kasar, otodidak adalah operator belaka.

Mahasiswa TI ‘diciptakan’ bukan untuk menjadi operator. Melainkan untuk menjadi konseptor, dan inovator. Mahasiswa TI tidak ‘diciptakan’ untuk menjadi robot yang mengetik kode di atas IDE berjam-jam, juga tidak ‘diciptakan’ untuk memasang kabel LAN, ataupun untuk membongkar pasang casing PC. Mahasiswa TI disiapkan untuk menjadi pemimpin di dunia IT, pemimpin yang melahirkan konsep dan pemikiran baru.

Perangkat lunak, tidak hanya lahir dari source code, tapi juga lahir dari pemikir pembuat perangkat lunak tersebut. Source code hanya bentuk implementasi.

Para pakar, tidak lahir dari buku-buku TI tanpa tuntutan ilmu yang komprehensif. Mereka lahir karena berjumpa dengan banyak kasus nyata, dan mempelajari teori secara teratur. Kesinambungan teori dan terapan itulah yang melahirkan pakar.

Otodidak IT jika mempelajari teori secara komprehensif akan menjadi lebih hebat dibanding mahasiswa TI yang mempelajari teori, tetapi tidak benar-benar mendalaminya. Mahasiswa TI jarang ingin berpikir kritis, gara-gara bingung ketika ketemu tugas pemrograman misalnya.

So? Mana yang menang? Tidak ada kata menang pada perkara ini. Jikalau ada, maka tunggulah karya-karya yang akan terbit dari kedua pihak. Masyarakatlah yang berhak menentukan pemenangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s