Jogjakarta – Sebuah Rekaman Perjalanan

Asal Anda tahu pembaca yang saya hormati, saya menulis ini dengan kaki yang rasanya seperti remuk!! Saya pulang dari Taman Pintar sekitar pukul 16.00, dan baru sampai rumah sekitar pukul 19.30. Trans Jogja telah berhasil menghilangkan tenaga saya. Dengan transit 4 kali akibat ditutupnya jalan karena event Muktamar Muhammadiyah, saya dianugerahi duduk 2 kali dalam waktu singkat dan sisanya berdiri.

Maaf-maaf. Ini melenceng. Tentu bukan ini yang hendak saya bagikan.😀

Malioboro

Pukul 11.00 hari ini, saya berangkat ke Malioboro, sebuah tempat yang saya rasa tidak ada orang yang tidak tahu dengan nama ini.

Saat saya berjalan mengelilingi hot spot bagi turis ini, saya menemukan beberapa fenomena yang (menurut saya) menarik. Ini yang saya temukan di sana:

Fenomena Emansipasi

Anda tahu tukang ojek? Ya, keliling mengantarkan orang dengan motor. Siapa yang biasanya jadi tukang ojek? Laki-laki. Oke. Silakan lihat gambar di bawah ini.

Emansipasi

Emansipasi, hidup sekali ternyata. Tukang ojek, perempuan. Saya baru pertama kali melihatnya langsung, dan saya sangat tertarik.

Kalau saya perhatikan, usia dari perempuan-perempuan hebat ini masih muda. Barangkali masih mahasiswa. Andai saya punya keberanian untuk bertanya kepada mereka, tentang motivasi mereka. Sayangnya, saya tidak berani.🙂

Tuna Netra, Kreatif

Kebutaan, mungkin adalah sebuah skak mat (mungkin) bagi beberapa dari kita. Tapi, tidak untuk mereka.

Duet romantis🙂

Salah satu dari tuna netra yang saya temui, berduet dipinggiran mall, dengan percaya diri. Mereka berdua sama, tidak bisa melihat. Tapi, mereka berani, demi mendapatkan nafkah. Aksi mereka cukup menarik perhatian. Mereka berbakat, itu pasti.

Instrumen merdu, dari maestro yang tak melihat.

Satu lagi, tuna netra yang bermain angklung dipinggiran hotel. Suaranya sungguh merdu. Andai saya punya perekam. Saya akan bagikan untuk Anda.

Mereka memberi saya pelajaran yang sangat berharga: TIDAK ADA KATA MENYERAH! SEMUA RINTANGAN, PASTI BISA DIATASI!

Globalisasi di Pasar Tradisional

Salah satu pengaruh globalisasi, adalah merambahnya bahasa non-nasional yang diakui internasional. Bahasa apa? Jelas: Bahasa Inggris. Penguasaan bahasa ini sekarang bukan hal baru, bahkan mutlak perlu.

Apakah Anda cukup percaya diri untuk berbicara dengan foreign people? Jujur, saya sendiri belum berani. Tapi, bapak ini tidak.

Saya terkesima, dengan kehebatan bapak ini. Bapak ini adalah seorang penjual pakaian biasa. Namun, fasih sekali ber-Bahasa Inggris. Orang asing itupun tidak terlihat kesulitan memahami bahasa bapak ini. Sungguh menarik.

Pedagang pasar tradisional, berbicara bahasa asing.

Usia, bukan masalah

Di atas tadi, ada duet romantis. Hal yang satu inipun tidak jauh berbeda.

Usia, ataupun kendala lainnya, bukan penghalang untuk tetap 'berjalan'

Sepasang ini (mudah-mudahan tidak salah) cukup menarik. Kendati sang ibu harus berjalan di atas kursi roda, namun tetap sang ayah setia menemaninya belanja. Sebuah bentuk kesetiaan yang mengharukan.

Untuk Pariwisata Bengkulu

Saya berkesempatan juga untuk mengunjungi salah satu situs sejarah, Benteng Vrederburg. Orang Jogja, tidak hanya mengandalkan peninggalan sejarah ini saja. Mereka menambahinya dengan kreasi mereka. Salah satunya, di sana digelar FKY (Festival Kesenian Yogyakarta), yang menampilkan seluruh kekayaan budaya yang mereka miliki dalam bentuk stan-stan kecil.

Berbeda sekali dengan Benteng Marlborough di Bengkulu. Saya rasa, sudah sewajarnya Pemerintah Bengkulu belajar dari Jogja. Toh, istilah kota pelajar juga asal mulanya telah dimiliki terlebih dahulu di kota tersebut. Semoga, lewat pilkada tahun ini, ada perbaikan untuk hal ini.🙂

Saya memang penggemar hal-hal sepele. Mudah-mudahan catatan ini tidak terlalu norak. Silakan berkomentar🙂

4 comments

  1. Isti. · July 2, 2010

    Amb kejogja cman jalan” baye mam.
    Daq sampe buat” cemiko.
    Jdi malu.
    Hhaa.😀

    • Imam Hidayat · July 2, 2010

      Haha.. sebenerny ini iseng aj Isti.
      Kebetulan masku punya kamera, jadi buat ini deh🙂

  2. esa · July 11, 2010

    ceritanya menarik sekali! nice share

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s