Menghadapi Kejahatan Konten Dunia Maya

Beberapa waktu yang lalu, semua media sibuk membahas kasus video yang melibatkan dua artis terkenal, Ariel, dan Luna Maya. Kisah itu begitu menghebohkan sedemikian sehingga akhirnya beberapa masalah yang terkait dengan teknologi akhirnya terangkat. Ya, teknologi adalah: pisau bermata dua.

Saya mengikuti terus perkembangan berita ini, bukan lantaran tertarik dengan video ataupun public figure yang terlibat. Melainkan karena timbul sebuah isu baru, yakni tentang pengaruh teknologi terhadap generasi muda.

Pembaca sekalian, saya adalah orang yang menentang keras tentang pendidikan seks. Saya berani menjamin bahwa mengajarkan anak tentang seks di usia dini adalah suatu langkah yang beresiko. Sehebat apapun metodenya, pendekatan apapun akan membuat sang anak akan merasa bingung, saya yakin sekali.

Saya tidak ingin menggunakan kata “seks” banyak-banyak di sini, bisa-bisa blog saya diblokir karena dikira memberikan materi yang tidak patut dibuka. Karena itu saya mengganti kata itu dengan ‘kedewasaan’. Bukankah materi tentang seks adalah materi untuk orang yang sudah mulai menginjak dewasa?

Saya setuju untuk mengoptimalkan perlindungan terhadap anak Anda dari pengaruh konten berbahaya di dunia maya. Sayangnya, beberapa kali yang lebih ditekankan tentang solusi yang tepat adalah mulai mengajarkan ‘kedewasaan’ ini.

Menurut saya, justru yang diperlukan bukan masalah pendidikan ‘kedewasaan’ itu pembaca sekalian. Materi apapun yang dilihat oleh anak Anda, seberbahaya apapun, tidak akan masalah selama anak Anda bisa menyikapi materi itu dengan baik. Pendidikan yang kurang adalah pendidikan moral yang sistematis dan aplikatif.

Misalkan begini, dulu saat saya SD, ada soal ulangan umum seperti ini:

Jika kamu menemukan dompet dijalan, maka yang kamu lakukan adalah…
a. mengambil isinya dan meninggalkan dompet di jalan
b. mengantarkan dompet tersebut ke kantor polisi
c. ditinggalkan saja

Mana yang kira-kira akan anak Anda pilih jika membaca soal di atas? Ya, tentu saja demi nilai ulangan yang baik, pilihan B lah yang tepat. Tapi, apakah demikian kenyataannya jika terjadi kasus yang sesungguhnya? Akankah, anak Anda, mengimplementasikan teori yang ia pelajari seperti seharusnya? Saya tidak yakin.

Sekarang, apa yang Anda takutkan? Mungkin Anda takut jika kemudian anak Anda berbuat yang tidak senonoh. Anda juga mungkin takut jika ia mempraktikkan apa yang ia baca, dengar, dan tonton tentang ‘kedewasaan’ di dunia maya. Juga Anda tidak akan mau jika sampai-sampai untuk mengikuti hawa nafsunya, anak Anda berkunjung ke lokalisasi.

Jika anak Anda memiliki kecenderungan yang benar, PASTI anak Anda tidak akan melakukan hal-hal di atas. Ini dia masalahnya pembaca sekalian, bagaimana cara menciptakan kecenderungan itu. Pendidikan ‘kedewasaan’ tidak akan menyelesaikan masalah. Anda membutuhkan metode yang lebih hebat dan tepat.

Baru-baru ini saya berkunjung ke toko buku dan kaget sekali ketika membaca sebuah judul buku (kalau saya tidak salah, atau mungkin serupa) “Ayo ajarkan anak Anda Seks”.

Justru dengan mengajarkan ‘kedewasaan’ ini, anak Anda malah akan lebih agresif dan rasa ingin tahu anak Anda akan semakin besar. Bukannya keselamatan mental anak Anda yang akan Anda dapatkan.

Anda butuh pendekatan psikologis. Saya tahu kalau saya bukan ahlinya. Anda akan lebih baik bertanya pada psikolog untuk menemukan metode yang tepat (walaupun, sebenarnya pendidikan ‘kedewasaan’ dipropagandakan oleh mereka). Manusia membutuhkan penyeimbang. Ketika seseorang memiliki prinsip dan keteguhan hati yang baik, walaupun ia melihat konten-konten berbahaya tersebut, ia tidak akan terpengaruh.

Saya adalah seorang muslim, karena itu, bagi Anda yang muslim, gunakan pendekatan Islam. Jika tidak, gunakan pendekatan rohani, yang mungkin bisa Anda dapatkan di sentral kepercayaan Anda.

Tentu apa yang saya tulis di atas adalah teori. Karena itu, saya lampirkan pula aplikasinya, tentang bagaimana mengontrol kegiatan berselancar anak Anda di dunia maya, yang mungkin bisa membantu.

Tidak ada cara lain, para orang tua! Tidak ada alasan bahwa Anda sudah terlalu tua untuk belajar IT (komputer). Atau, silakan pertahankan pendapat itu, dan lihatlah anak Anda di kemudian hari.

Berikut beberapa tips.

Pertama, lebih baik jika Anda memiliki koneksi internet di rumah. Mengapa? Saya pelanggan setia warnet, dan saya tahu betul isinya. Beberapa warnet bahkan ada yang menyediakan satu folder khusus yang isinya konten-konten berbahaya tersebut. Jangan biasakan anak Anda ke warnet, kecuali umurnya sudah cukup (yang dalam asumsi saya, cukup adalah usia anak kelas VIII SMP).

Koneksi internet sekarang biayanya semakin terjangkau. Anda bisa memilih paket-paket tertentu seperti paket 15 jam, 50 jam, atau unlimited. Harganya berkisar antara 50.000 sampai dengan 700.000 per bulan. Sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Anda bisa kunjungi penyedia jasa internet di kota Anda seperti Telkom, Indosat, Telkomsel, dan sebagainya.

Jika Anda sudah melakukan langkah pertama, maka lanjutkan dengan langkah kedua. Letakkan komputer yang bisa mengakses internet di ruang tengah, atau di ruang keluarga, atau di mana saja asalkan Anda bisa mengontrol mereka. Metode ini mungkin efektif untuk anak Anda yang masih kecil.

Jika Anda memiliki anak yang umurnya lebih dari 13 tahun, biasanya mereka tidak senang jika metode di atas dipakai. Anak Anda pasti ingin menaruh komputernya di ruang pribadi seperti kamar tidur. Lalu bagaimana solusinya?

Setiap anak Anda membuka internet, di setiap browser yang mereka gunakan, ada fitur bernama History. Fitur ini akan merekam semua yang dibuka oleh anak Anda. Saya sarankan untuk menggunakan browser seperti Internet Explorer, Mozilla Firefox, Google Chrome, atau Opera. Biasanya Anda bisa mengakses fitur tersebut hanya dengan menekan tombol Ctrl + H. Atau jika tidak bisa, silakan jelajahi browser Anda, cari menu yang menyimpan fitur tersebut.

Fitur History pada Mozilla Firefox (Tekan Ctrl + Shift + H)

Fitur History pada Internet Explorer (Tekan Ctrl + H)

Apakah sudah cukup? Sayangnya belum. History dari suatu browser bisa dimodifikasi atau bahkan dihapus. Anda membutuhkan teknik yang lebih canggih lagi. Bagaimana?

Ada beberapa perangkat lunak yang bisa Anda pakai untuk mengontrol anak Anda. Pertama adalah stealth keylogger, yaitu perangkat yang bisa merekam tombol keyboard yang ditekan oleh anak Anda secara diam-diam. Perangkat ini akan merekam semua tombol yang ditekan saat diaktifkan. Selesai anak Anda browsing, cek saja file log-nya. Biasanya perangkat ini akan menyimpan rekaman tombol di suatu file teks yang bisa Anda baca.

Atau, Anda juga bisa menggunakan sebuah perangkat yang bisa merekam tampilan layar komputer Anda. Perangkat ini cukup menarik. Pasang perangkat ini saat anak Anda browsing, dan setelah selesai, Anda bisa melihat rekaman gambar tentang apa saja yang anak Anda lakukan di komputer.

Jika sepertinya masih sulit untuk membendung keinginan anak Anda ke warnet, maka Anda harus melakukan tindakan yang lebih sulit. Selalu periksa komputer dan flashdisk anak Anda. Jika Anda melihat anak Anda membawa flashdisk temannya, jangan sungkan untuk mengecek isinya juga. Ada kemungkinan teman-teman anak Anda menyimpan file-file yang berbahaya, walaupun sebenarnya file itu bukan untuk anak Anda.

Jangan tertipu dengan file-file yang disembunyikan. Anda harus sedikit belajar teknik manajemen file. Karena saya menggunakan Windows, saya tidak bisa memberikan saran untuk pengguna sistem operasi lain. Khusus untuk ini, harap bersabar karena saya sedang menyelesaikan sebuah e-book tentang manajemen file di Windows.

Semua yang saya ceritakan jangan Anda lakukan terang-terangan. Lakukan tips-tips tersebut saat mereka sedang tidak ada atau saat mereka sedang tidur.

Perlu saya beritahu, bahwa ada satu masalah lagi yang mungkin harus membuat Anda berpikir keras, yaitu masalah Password. Di Windows, suatu account user (pengguna) bisa diberi password. Selesailah semua jika Anda tidak bisa mengakses komputer anak Anda. Lalu bagaimana? Sayang sekali, Anda harus mempelajari teknik lanjutan yang disebut hacking, yang salah satu implementasinya adalah teknik membobol password!

Untuk ini, saya juga bukan ahlinya, tapi masih ada harapan. Silakan kunjungi toko-toko buku di kota Anda. Buku tentang hacking di Indonesia banyak sekali. Saya sarankan untuk menggunakan buku yang dikarang oleh Jasakom (http://www.jasakom.com) karena menurut saya buku dari mereka sangat mudah dimengerti.

Dunia IT memang terlalu luas. Anda jangan sampai ketinggalan. Hal yang penting adalah, ikuti perkembangan internet. Di Indonesia, ada fasilitas tertentu yang bisa memblokir halaman yang mengandung konten berbahaya, seperti DNS Nawala . Anda juga bisa belajar ‘menyelamatkan’ anak Anda di situs Internet Sehat. Bahkan juga ada istilah ber-Internet Halal. Hanya saja Anda harus menggunakan sistem operasi tertentu seperti Ubuntu Muslim Edition.

Banyak tips yang disediakan oleh orang yang peduli dengan masalah ini di internet. Anda bisa gunakan search engine (seperti Google) untuk mencari informasi yang Anda butuhkan.

Terlepas dari itu semua, tidak ada cara lain. Bangun karakter anak Anda dari sekarang! Jika terlambat, maka penyesalan akan datang di penghujung waktu. Semoga artikel ini bisa membantu.

Artikel selanjutnya, akan segera saya bahas tentang penggunaan perangkat lunak yang saya ceritakan di artikel ini. Mohon kesabarannya.

Sementara menunggu, Penulis bisa ditanya-tanyai di imam.hidayat92@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s