Sebuah Perjalanan Rohani – Bagian 2

Nah, saya melanjutkan catatan saya dari bagian sebelumnya. Kali ini tentang kehidupan di pesantren itu.

Para santri di sana, sehabis adzan Ashar, mereka segera membuka Al-Qur’an, mengaji tanpa henti, hingga pukul 5 lewat. Mengaji 1 jam lebih nonstop. Wah, mereka luar biasa. Kadang kita baru mengaji 1 halaman Al-Qur’an sudah mengantuk dan segera mengucapkan “Shadaqallahul ‘adzim”. Para santri di sana, yang menurut taksiran saya sudah berumur 10 tahun lebih, hanya 4 orang. Sisanya masih kecil-kecil dan mereka rajin sekali mengaji.

Sesudah mengaji, mereka pindah ke rumah salah seorang guru mereka, untuk mendengarkan pembacaan kitab. Tidak, bukan hanya mendengarkan, tetapi juga menulis apa yang mereka dengar. Suasananya khidmat sekali, berbeda dengan anak-anak SD sekarang yang sukanya ribut saja di kelas saat guru mendengarkan. Di sana, para santri kecil terasuh dengan baik.

Guru mereka membacakan suatu kitab yang hurufnya arab semua! Tidak ada tulisan latinnya sama sekali. Dan, sambil membacakan, guru tersebut langsung menerjemahkan. dan para pendengarnya, termasuk saya yang masih awam mengerti dengan baik.

Di antara isinya, ada satu yang membuat saya tersindir (sekaligus tersentuh). Kira-kira begini isinya (dengan beberapa adaptasi dari saya):

“Salah satu sabda rasul, jika umatku bersusah payah hanya untuk dunia, maka hilanglah wibawa Islam (saya lupa, antara hilanglah wibawa, atau dicabutlah pemahaman terhadap Islam, akan coba saya cari hadits-nya yang benar).

Orang-orang Islam sekarang sering sekali bersusah-susah hanya karena urusan dunia. Mereka sibuk banting tulang, karena urusan dunia saja. Akibatnya, hilanglah wibawa Islam. Dulu, para sahabat, bersusah-susah karena Islam. Hingga Islam bisa tersebar ke seluruh dunia.

Karena bersusah-susah oleh sebab dunia saja, maka tidak hanya wibawa saja, pemahaman terhadap firman ALLAH pun jadi berkurang. Orang sekarang menafsirkan Al-Qur’an sak enake dewek (se-enaknya sendiri, gurunya adalah jebolan Pesantren Lirboyo, maklum). Pemahaman itu penting, sampai-sampai ulama membuat suatu ibarat.

Ada seorang ayah pulang dari sawah pada sore hari menjelang maghrib. Sesampainya di rumah, sang ayah berkata pada dua anaknya, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak mengambilkan ember berisi air untuk berwudhu, sedangkan si adik mengambilkan air segelas untuk minum. Sesudah itu, kemudian ayahnya berkata lagi, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak membawa air segelas untuk minum, sedang adiknya membawa air satu bak untuk ayahnya. Adzan kemudian berkumandang, dan ayahnya berkata lagi, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak membawa air satu bak dan adiknya membawa air seember.

Nah, apa maksudnya? Sang adik lebih paham dari kakaknya. Saat ayahnya pulang, tentulah sang ayah haus, air segelaslah yang dimintanya. Sesudahnya, tentulah biar segar kembali, ayahnya harus mandi, dan saat adzan berkumandang, ayahnya harus wudhu untuk shalat. Betapa pemahaman yang benar sangatlah penting, karena sangat berpengaruh sekali.”

Saya sedih dan tersentuh mendengarnya, betapa sedikit mungkin dari kita yang memahami Al-Qur’an dengan benar.

Saya ingin membahas sesuatu, kalau Anda berpikir tentang suatu pesantren, bagaimana kehidupannya? Ya, bosan! Mereka sibuk mengaji, shalat, belajar, mengaji lagi, dst. Sebuah kehidupan yang monoton. Wah, istilahnya salah, yang benar, kehidupan yang istiqamah (teguh). Alangkah bosan, mengapa Islam seolah-olah mengajarkan sesuatu yang kaku? Nah, mari saya ingin berbagi sedikit pemikiran.

Anda tahu matahari? Ia terbit pagi dari timur, terbenam sore di barat. Begitu terus setiap hari sampai akhir hayatnya nanti. Dengan cahayanya, tumbuhan bisa hidup, dan hewan bisa makan. Tumbuhan bisa memasak makanan berkat matahari, dan matahari juga berperan dalam mengontrol siklus hujan.

Nah, bukankah matahari istiqamah? Apa jadinya kalau matahari tidak istiqamah? Anda mungkin berkata, orang yang kaku butuh refreshing. Oke, coba apa yang terjadi kalau matahari refreshing? Dia capek menyinari bumi dan minta refreshing, habislah kita semua!

Banyak yang istiqamah di bumi ini, udara, awan, air, tanah, apa jadinya kalau mereka tidak istiqamah?

Ke-istiqamah-an mereka membawa kehidupan dan keselarasan di bumi. Air, tanah, udara, matahari, dan yang lainnya saling memberi manfaat, karena ke-istiqamah-an mereka.

Begitulah, ke-istiqamahan para santri dalam belajar Al-Qur’an akan membawa cahaya bagi mereka dan suatu saat mereka akan membawa cahaya Islam itu untuk bersinar lebih terang dan menjangkau lebih luas lagi. Bagaimana, Anda masih bilang Islam kaku dan membosankan?

Itulah kenapa ajaran Islam meminta pengikutnya agar istiqamah, karena ke-istiqamah-an membawa sebuah manfaat yang besar. Shalat kita, mengaji kita, zakat kita, akan membawa hal yang baik jika kita istiqamah, seperti matahari yang istiqamah menyinari bumi dan membantu kehidupan yang ada di dalamnya. Kita yang istiqamah mengikuti Islam, akan sangat beruntung.

Selanjutnya, tentang pengalaman saya di sana. Saya usahakan cepat selesai. Semoga apa yang saya tulis mengena di hati Anda.

Komentar Anda, saya terima dengan sangat terbuka.

One comment

  1. ihzan · December 15, 2010

    mantap sungguh menyentu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s