Sebuah Perjalanan Rohani – Bagian 1

Several times ago (ehem!) beberapa note saya memuat jawaban dari perdebatan tentang argumen Pat T. Larkin yang sibuk menilai Islam tanpa mengetahui jati diri Islam yang sebenarnya. Kini, dibanding sibuk mendebat orang yang telah terlanjur terkekang dengan nafsu intelektual, saya rasa lebih baik kita membahas keindahan Islam. Tidak ada gunanya kita mendebat orang seperti itu, karena ALLAH sendiri telah berfirman :

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).” (QS Ar-Ruum: 53)

Barangkali, kita doakan saja agar Pat T. Larkin (dan orang-orang yang serupa dengannya) mendapat hidayah dari ALLAH.

Catatan saya kali ini mungkin agak panjang kalau langsung ditulis sekaligus. Karena itu, mungkin saya bagi menjadi 3 bagian. (Dibaca semuanya ya, agar inti dari apa yang ingin saya sampaikan tidak terputus)

Hari senin, 10 Mei yang lalu, saya dan ayah saya berangkat ke sebuah masjid di daerah Pagar Dewa. Saya berkesempatan hadir di sana hanya selama 4 jam, tetapi begitu banyak sesuatu yang membuat saya sadar dan berpikir kembali, betapa ALLAH telah mengatur orang-orang yang dikehendakinya untuk beriman, berpikir dengan sangat baik.

Deskripsi daerah :

Masjid di daerah itu ternyata juga merupakan sebuah pesantren kecil. Daerahnya agak sepi, dengan pohon-pohon dan rumput yang masih terawat oleh alam. Suasananya sunyi sekali, hanya terdengar suara santri anak-anak mengaji. Saat mereka selesai, suara benar-benar hanya berasal dari alam.

Saya biasanya melihat perempuan bercadar hanya lewat TV, tapi sekali ini, saya benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri.

Murid yang ada di sana hanya sekitar 15 orang dengan umur antara 7 – 14 tahun (taksiran saya). Laki-lakinya ternyata adalah penghafal Al-Qur’an, dan beberapa dari mereka telah menghafal 4 juz. SubhanALLAH, berapa hafalan kita?

Murid perempuannya juga ada, dan mereka semua menggunakan baju muslim hitam dengan cadar! Semua perempuan yang ada di situ bercadar. Benar-benar tertutup, saya tidak bisa menerka bagaimana wajah mereka semua.

Rumah-rumah di sana dindingnya hanya dari papan. Sederhana sekali, dengan jendela tanpa kaca. Bingkai jendelanya dari kayu dan jendelanya juga dari kayu. Saya tidak bisa mengintip dari luar, dan ketika di dalam, melihat keluar juga tidak bisa (tapi tentunya, jendelanya bisa dibuka).

Betapa mereka terlihat sekali berusaha mengamalkan sunnah dengan baik. Mengapa mereka memakai cadar? Pembaca sekalian, jika Anda adalah seorang perempuan, ketahuilah bahwa banyak mata-mata nakal lelaki yang terkadang tidak disadari oleh Anda. Mereka menjaga itu, laki-laki pasti tidak bisa menerka-nerka, karena mereka benar-benar tertutup auratnya.

Banyak orang yang mempermasalahkan cadar dengan mengatakan bahwa penggunaannya hanyalah kaum-kaum yang ekstrim dan berat. Bahkan ada yang mengatakannya kaum sesat dulu. Akhirnya, mereka (dan Islam) dijauhi, bahkan sempat ada anggapan yang tidak-tidak terhadap perempuan bercadar.

Alangkah aneh, saya tidak habis pikir. Apakah perempuan-perempuan yang memamerkan aurat di khalayak umum lewat TV jauh lebih baik? Apakah mereka yang berkeliaran keliling kota hanya dengan celana pendek dan baju ketat lebih terhormat? Mengapa mempermasalahkan cadar? Mereka (yang menggunakan cadar) hanyalah berusaha mengamalkan Al-Qur’an dan sunnah. Seharusnya mereka mempermasalahkan perempuan yang membuka aurat!!

Lalu, tentang mereka yang hidup sederhana sekali. Jendela dan model rumah tersebut hanyalah sebuah usaha untuk menghindari fitnah dan gibah. Jendela dan spot-spot yang transparan, selalu mengundang fitnah dan gibah. Tetangga yang sukanya menggunjing, saat melihat sesuatu di dalam rumah orang lain, sering menjadikannya topik dari gosip mereka. Dengan model seperti ini, amanlah mereka dari sebagian lubang masuknya fitnah dan gibah.

Wah, sebenarnya masih banyak. Saya usahakan secepatnya selesai. Bagian selanjutnya tentang kehidupan di pesantren. Banyak yang ingin saya bahas, dan semoga mengena di hati pembaca.

Komentar-komentar Anda, saya terima dengan sangat terbuka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s