Sebuah Perjalanan Rohani – Bagian 3

Inilah bagian terakhir cerita saya. Tentang pengalaman saya di sana.

Karena hari itu hari senin, maka semua santri (dan gurunya) berpuasa (puasa sunnah, senin-kamis). Ketika waktu berbuka tiba, saya dan ayah saya ikut makan (bukan berbuka) di sana, bersama para santri. Coba tebak, apa yang dihidangkan, dan bagaimana menyantapnya?

Dari dalam tirai, dibawakan 2 buah nampan, satu nampan disantap 5 orang. Makanannya? Sederhana sekali (kebetulan waktu itu mati lampu, tapi saya ingat apa yang saya makan). Nasi yang cukup untuk 5 orang, di atasnya diguyur sayuran berkuah (nangka, kacang panjang, tempe) dan kemudian, di bagian tengahnya di taruh 1 daging ikan (tidak terlalu besar, separuh badan ikan saja).

Saya baru pertama kali mengalami hal yang demikian. Makanan yang sangat sederhana, tetapi tidak terasa karena kami semangat menyantapnya di atas satu nampan. Ya, simbol ukhuwah yang sangat kuat!

Bayangkan, kalau saya rakus dan memakan semua dagingnya, maka tidak ada yang kebagian. Masing-masing harus mengontrol jumlah nasi dan lauk yang dimakan agar semuanya kebagian. Sebuah latihan rohani yang bagus sekali untuk mengontrol ketamakan manusia.

Makan di sana pakai apa? Sendok? Tidak!! Tangan. Bayangkan, untuk orang-orang tertentu (yang mungkin bisa dikatakan orang kaya) pasti jijik! Tangan berlima, mengobok-obok 1 nampan. Mungkin terlihat sangat tidak menyenangkan sekali bagi mereka. Padahal, dalam hal yang demikian, tersimpan simbol persaudaraan yang kuat.

Ya, sesama muslim itu, kata nabi, harus saling menguatkan. Dalam hadits-nya, nabi diriwayatkan ketika mengibaratkan kekokohan muslim, beliau menyelipkan jari-jari tangan kanan ke jari-jari tangan kiri, dan kemudian menggenggamnya. Coba Anda bayangkan, bukankah susah untuk melepaskan kedua tangan Anda jika posisi tangannya seperti itu?

Itulah kekokohan Islam. Guru SD kita pun sering bilang, satu lidi bisa dipatahkan dengan sangat mudah. Tapi, bagaimana jika puluhan lidi, ratusan lidi, ribuan lidi? Yang ada tangan Anda yang patah.

Sebuah kekokohan antar umat muslim. Saya yakin, banyak orang yang beragama Islam, tetapi tidak merasa sebagai salah satu kekuatan Islam.

Kita adalah umat terakhir, dari agama yang sempurna. Semua pertanyaan memiliki jawaban, dan biasanya kitalah yang karena tidak memiliki jawaban menjadi goyah dari keimanan. Pertanyaan yang berbahaya seperti beberapa yang telah ditanyakan oleh seorang intelektual seperti itu, hanyalah keluar dari rasa ingin tahu yang tidak dilandaskan keimanan.

Semua yang ada di dunia, itu pasti mendukung ALLAH, karena Ialah yang menciptakannya, dan hitungannya amat sempurna, lebih sempurna dari hitungan para Scientist. Science sendiri yang sering dianggap bertentangan dengan agama tentu tidaklah demikian. Science adalah ilmu untuk menggali bentuk-bentuk kekuasaan ALLAH, karena yang dilakukan manusia, adalah memakai yang diciptakan tuhan.

Saya teringat sebuah kata-kata dari guru di pesantren itu:

“Anda tahu Iblis? Iblis itu dikutuk sampai hari kiamat karena ia menentang ALLAH 1 kali saja, yakni tidak mau bersujud kepada Adam”

Hanya 1 kali menentang, Iblis dikutuk hingga hari kiamat. Na’udzubillah, Anda pasti tahu maksud saya bukan? Berapa kali kita telah melanggar perintah ALLAH?

Maka, tidak pantaslah seorang manusia untuk sombong dihadapan Tuhannya.

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al-Israa: 37)

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)

“(Dikatakan kepada mereka): ‘Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong’.” (QS Al-Mu’min: 76)

Semoga kita diberi hidayah selalu hingga jasad dan ruh berpisah dari dunia ini. Amiin ya rabbal ‘alamin

Komentar Anda akan saya terima dengan tangan terbuka.

Advertisements

Sebuah Perjalanan Rohani – Bagian 2

Nah, saya melanjutkan catatan saya dari bagian sebelumnya. Kali ini tentang kehidupan di pesantren itu.

Para santri di sana, sehabis adzan Ashar, mereka segera membuka Al-Qur’an, mengaji tanpa henti, hingga pukul 5 lewat. Mengaji 1 jam lebih nonstop. Wah, mereka luar biasa. Kadang kita baru mengaji 1 halaman Al-Qur’an sudah mengantuk dan segera mengucapkan “Shadaqallahul ‘adzim”. Para santri di sana, yang menurut taksiran saya sudah berumur 10 tahun lebih, hanya 4 orang. Sisanya masih kecil-kecil dan mereka rajin sekali mengaji.

Sesudah mengaji, mereka pindah ke rumah salah seorang guru mereka, untuk mendengarkan pembacaan kitab. Tidak, bukan hanya mendengarkan, tetapi juga menulis apa yang mereka dengar. Suasananya khidmat sekali, berbeda dengan anak-anak SD sekarang yang sukanya ribut saja di kelas saat guru mendengarkan. Di sana, para santri kecil terasuh dengan baik.

Guru mereka membacakan suatu kitab yang hurufnya arab semua! Tidak ada tulisan latinnya sama sekali. Dan, sambil membacakan, guru tersebut langsung menerjemahkan. dan para pendengarnya, termasuk saya yang masih awam mengerti dengan baik.

Di antara isinya, ada satu yang membuat saya tersindir (sekaligus tersentuh). Kira-kira begini isinya (dengan beberapa adaptasi dari saya):

“Salah satu sabda rasul, jika umatku bersusah payah hanya untuk dunia, maka hilanglah wibawa Islam (saya lupa, antara hilanglah wibawa, atau dicabutlah pemahaman terhadap Islam, akan coba saya cari hadits-nya yang benar).

Orang-orang Islam sekarang sering sekali bersusah-susah hanya karena urusan dunia. Mereka sibuk banting tulang, karena urusan dunia saja. Akibatnya, hilanglah wibawa Islam. Dulu, para sahabat, bersusah-susah karena Islam. Hingga Islam bisa tersebar ke seluruh dunia.

Karena bersusah-susah oleh sebab dunia saja, maka tidak hanya wibawa saja, pemahaman terhadap firman ALLAH pun jadi berkurang. Orang sekarang menafsirkan Al-Qur’an sak enake dewek (se-enaknya sendiri, gurunya adalah jebolan Pesantren Lirboyo, maklum). Pemahaman itu penting, sampai-sampai ulama membuat suatu ibarat.

Ada seorang ayah pulang dari sawah pada sore hari menjelang maghrib. Sesampainya di rumah, sang ayah berkata pada dua anaknya, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak mengambilkan ember berisi air untuk berwudhu, sedangkan si adik mengambilkan air segelas untuk minum. Sesudah itu, kemudian ayahnya berkata lagi, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak membawa air segelas untuk minum, sedang adiknya membawa air satu bak untuk ayahnya. Adzan kemudian berkumandang, dan ayahnya berkata lagi, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak membawa air satu bak dan adiknya membawa air seember.

Nah, apa maksudnya? Sang adik lebih paham dari kakaknya. Saat ayahnya pulang, tentulah sang ayah haus, air segelaslah yang dimintanya. Sesudahnya, tentulah biar segar kembali, ayahnya harus mandi, dan saat adzan berkumandang, ayahnya harus wudhu untuk shalat. Betapa pemahaman yang benar sangatlah penting, karena sangat berpengaruh sekali.”

Saya sedih dan tersentuh mendengarnya, betapa sedikit mungkin dari kita yang memahami Al-Qur’an dengan benar.

Saya ingin membahas sesuatu, kalau Anda berpikir tentang suatu pesantren, bagaimana kehidupannya? Ya, bosan! Mereka sibuk mengaji, shalat, belajar, mengaji lagi, dst. Sebuah kehidupan yang monoton. Wah, istilahnya salah, yang benar, kehidupan yang istiqamah (teguh). Alangkah bosan, mengapa Islam seolah-olah mengajarkan sesuatu yang kaku? Nah, mari saya ingin berbagi sedikit pemikiran.

Anda tahu matahari? Ia terbit pagi dari timur, terbenam sore di barat. Begitu terus setiap hari sampai akhir hayatnya nanti. Dengan cahayanya, tumbuhan bisa hidup, dan hewan bisa makan. Tumbuhan bisa memasak makanan berkat matahari, dan matahari juga berperan dalam mengontrol siklus hujan.

Nah, bukankah matahari istiqamah? Apa jadinya kalau matahari tidak istiqamah? Anda mungkin berkata, orang yang kaku butuh refreshing. Oke, coba apa yang terjadi kalau matahari refreshing? Dia capek menyinari bumi dan minta refreshing, habislah kita semua!

Banyak yang istiqamah di bumi ini, udara, awan, air, tanah, apa jadinya kalau mereka tidak istiqamah?

Ke-istiqamah-an mereka membawa kehidupan dan keselarasan di bumi. Air, tanah, udara, matahari, dan yang lainnya saling memberi manfaat, karena ke-istiqamah-an mereka.

Begitulah, ke-istiqamahan para santri dalam belajar Al-Qur’an akan membawa cahaya bagi mereka dan suatu saat mereka akan membawa cahaya Islam itu untuk bersinar lebih terang dan menjangkau lebih luas lagi. Bagaimana, Anda masih bilang Islam kaku dan membosankan?

Itulah kenapa ajaran Islam meminta pengikutnya agar istiqamah, karena ke-istiqamah-an membawa sebuah manfaat yang besar. Shalat kita, mengaji kita, zakat kita, akan membawa hal yang baik jika kita istiqamah, seperti matahari yang istiqamah menyinari bumi dan membantu kehidupan yang ada di dalamnya. Kita yang istiqamah mengikuti Islam, akan sangat beruntung.

Selanjutnya, tentang pengalaman saya di sana. Saya usahakan cepat selesai. Semoga apa yang saya tulis mengena di hati Anda.

Komentar Anda, saya terima dengan sangat terbuka.

Sebuah Perjalanan Rohani – Bagian 1

Several times ago (ehem!) beberapa note saya memuat jawaban dari perdebatan tentang argumen Pat T. Larkin yang sibuk menilai Islam tanpa mengetahui jati diri Islam yang sebenarnya. Kini, dibanding sibuk mendebat orang yang telah terlanjur terkekang dengan nafsu intelektual, saya rasa lebih baik kita membahas keindahan Islam. Tidak ada gunanya kita mendebat orang seperti itu, karena ALLAH sendiri telah berfirman :

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).” (QS Ar-Ruum: 53)

Barangkali, kita doakan saja agar Pat T. Larkin (dan orang-orang yang serupa dengannya) mendapat hidayah dari ALLAH.

Catatan saya kali ini mungkin agak panjang kalau langsung ditulis sekaligus. Karena itu, mungkin saya bagi menjadi 3 bagian. (Dibaca semuanya ya, agar inti dari apa yang ingin saya sampaikan tidak terputus)

Hari senin, 10 Mei yang lalu, saya dan ayah saya berangkat ke sebuah masjid di daerah Pagar Dewa. Saya berkesempatan hadir di sana hanya selama 4 jam, tetapi begitu banyak sesuatu yang membuat saya sadar dan berpikir kembali, betapa ALLAH telah mengatur orang-orang yang dikehendakinya untuk beriman, berpikir dengan sangat baik.

Deskripsi daerah :

Masjid di daerah itu ternyata juga merupakan sebuah pesantren kecil. Daerahnya agak sepi, dengan pohon-pohon dan rumput yang masih terawat oleh alam. Suasananya sunyi sekali, hanya terdengar suara santri anak-anak mengaji. Saat mereka selesai, suara benar-benar hanya berasal dari alam.

Saya biasanya melihat perempuan bercadar hanya lewat TV, tapi sekali ini, saya benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri.

Murid yang ada di sana hanya sekitar 15 orang dengan umur antara 7 – 14 tahun (taksiran saya). Laki-lakinya ternyata adalah penghafal Al-Qur’an, dan beberapa dari mereka telah menghafal 4 juz. SubhanALLAH, berapa hafalan kita?

Murid perempuannya juga ada, dan mereka semua menggunakan baju muslim hitam dengan cadar! Semua perempuan yang ada di situ bercadar. Benar-benar tertutup, saya tidak bisa menerka bagaimana wajah mereka semua.

Rumah-rumah di sana dindingnya hanya dari papan. Sederhana sekali, dengan jendela tanpa kaca. Bingkai jendelanya dari kayu dan jendelanya juga dari kayu. Saya tidak bisa mengintip dari luar, dan ketika di dalam, melihat keluar juga tidak bisa (tapi tentunya, jendelanya bisa dibuka).

Betapa mereka terlihat sekali berusaha mengamalkan sunnah dengan baik. Mengapa mereka memakai cadar? Pembaca sekalian, jika Anda adalah seorang perempuan, ketahuilah bahwa banyak mata-mata nakal lelaki yang terkadang tidak disadari oleh Anda. Mereka menjaga itu, laki-laki pasti tidak bisa menerka-nerka, karena mereka benar-benar tertutup auratnya.

Banyak orang yang mempermasalahkan cadar dengan mengatakan bahwa penggunaannya hanyalah kaum-kaum yang ekstrim dan berat. Bahkan ada yang mengatakannya kaum sesat dulu. Akhirnya, mereka (dan Islam) dijauhi, bahkan sempat ada anggapan yang tidak-tidak terhadap perempuan bercadar.

Alangkah aneh, saya tidak habis pikir. Apakah perempuan-perempuan yang memamerkan aurat di khalayak umum lewat TV jauh lebih baik? Apakah mereka yang berkeliaran keliling kota hanya dengan celana pendek dan baju ketat lebih terhormat? Mengapa mempermasalahkan cadar? Mereka (yang menggunakan cadar) hanyalah berusaha mengamalkan Al-Qur’an dan sunnah. Seharusnya mereka mempermasalahkan perempuan yang membuka aurat!!

Lalu, tentang mereka yang hidup sederhana sekali. Jendela dan model rumah tersebut hanyalah sebuah usaha untuk menghindari fitnah dan gibah. Jendela dan spot-spot yang transparan, selalu mengundang fitnah dan gibah. Tetangga yang sukanya menggunjing, saat melihat sesuatu di dalam rumah orang lain, sering menjadikannya topik dari gosip mereka. Dengan model seperti ini, amanlah mereka dari sebagian lubang masuknya fitnah dan gibah.

Wah, sebenarnya masih banyak. Saya usahakan secepatnya selesai. Bagian selanjutnya tentang kehidupan di pesantren. Banyak yang ingin saya bahas, dan semoga mengena di hati pembaca.

Komentar-komentar Anda, saya terima dengan sangat terbuka.

“Hachiko” – Simbol Kesetiaan Sejati

Kisah ini adalah kisah nyata yang sungguh terjadi di negara matahari terbit, Jepang, pada kisaran tahun 1924. Sedih rasanya jika mengingat bahwa hal ini ternyata terjadi pada seekor binatang. Ya, para pembaca sekalian, Hachiko adalah nama seekor anjing.

Picture of Hachiko - Courtesy Wikipedia.org

Seorang dosen pertanian Universitas Tokyo, Hidesaburo Ueno memiliki seekor anjing yang bernama Hachiko. Setiap hari, si Hachiko ini selalu mengantarkan majikannya berangkat kerja ke Stasiun Shibuya saat pagi harinya, dan sore harinya, anjing ini datang kembali ke stasiun untuk menjemput Pak Ueno.

Hachiko melakukan ini setiap harinya. Sehingga, karena seringnya sang anjing dan majikannya ini bolak-balik, para penumpang kereta di Stasiun Shibuya sudah maklum dengan kelakuan anjing ini. Begitulah keseharian Hachiko, kesetiannya pada majikannya membuat ia setiap hari teguh untuk mengantar dan menjemput majikannya di Stasiun. Hal ini terus berlanjut, hingga suatu hari, takdir mengeluarkan konsensus.

Mei 1925, Hachiko mengantar majikannya ini ke stasiun, tanpa mengetahui bahwa kegiatan rutinnya ini adalah kebersamaan mereka yang terakhir. Hari itu, sang majikan tidak akan pernah kembali. Ia terserang stroke saat di kampus dan meninggal dunia.

Kepengurusan anjing ini selanjutnya dialihkan pada kolega Pak Ueno. Namun, sepeninggal Pak Ueno, Hachiko ternyata tetap setia menjalankan rutinitasnya. Berkali-kali, sang anjing ini berkunjung ke rumah majikan lamanya. Tentu saja, ia tidak akan bertemu dengan Pak Ueno. Walau demikian, Hachiko tetap berangkat ke stasiun, menunggu di tempat biasanya majikannya datang.

Hachiko selalu setia, menunggu majikannya pulang di Stasiun Shibuya, walau yang ditunggu tidak akan pernah datang. Hal ini berlanjut selama 9 tahun lamanya. Begitu teguhnya kesetiaan Hachiko, ia tetap menunggu Pak Ueno pulang. Para penumpang kereta yang ada di Stasiun Shibuya selalu melihat anjing ini menunggu tanpa lelah di peron stasiun. Hingga akhirnya, Hachiko pun ikut menyusul majikannya ke alam baka. Hachiko ditemukan mati di jalan dekat Stasiun Shibuya pada tanggal 8 Maret 1935

Kisah Hachiko ini, kemudian diabadikan oleh mahasiswa Pak Ueno. Pada tahun 1932, kisah kesetiaan Hachiko yang luar biasa ini diterbitkan dalam Koran nasional Jepang. Sekejap saja, kisah Hachiko berkembang di masyarakat. Hingga akhirnya, Hachiko ditetapkan sebagai simbol kesetiaan nasional oleh Pemerintah Jepang. Untuk mengenang kesetiaan Hachiko, di Stasiun Shibuya dibangun sebuah patung perunggu. Bahkan, sampai sekarang setiap tanggal 8 Maret, selalu diadakan sebuah upacara di Stasiun Shibuya untuk menghormati Hachiko, simbol kesetiaan sejati.

Bronze statue of Hachiko - Courtesy Wikipedia.org

Wah, sedih bukan? Saya pribadi terharu ketika membaca cerita ini. Bagaimana dengan Anda? Well, please leave some comments. 🙂