Menghadapi Kejahatan Konten Dunia Maya

Beberapa waktu yang lalu, semua media sibuk membahas kasus video yang melibatkan dua artis terkenal, Ariel, dan Luna Maya. Kisah itu begitu menghebohkan sedemikian sehingga akhirnya beberapa masalah yang terkait dengan teknologi akhirnya terangkat. Ya, teknologi adalah: pisau bermata dua.

Saya mengikuti terus perkembangan berita ini, bukan lantaran tertarik dengan video ataupun public figure yang terlibat. Melainkan karena timbul sebuah isu baru, yakni tentang pengaruh teknologi terhadap generasi muda.

Pembaca sekalian, saya adalah orang yang menentang keras tentang pendidikan seks. Saya berani menjamin bahwa mengajarkan anak tentang seks di usia dini adalah suatu langkah yang beresiko. Sehebat apapun metodenya, pendekatan apapun akan membuat sang anak akan merasa bingung, saya yakin sekali.

Saya tidak ingin menggunakan kata “seks” banyak-banyak di sini, bisa-bisa blog saya diblokir karena dikira memberikan materi yang tidak patut dibuka. Karena itu saya mengganti kata itu dengan ‘kedewasaan’. Bukankah materi tentang seks adalah materi untuk orang yang sudah mulai menginjak dewasa?

Saya setuju untuk mengoptimalkan perlindungan terhadap anak Anda dari pengaruh konten berbahaya di dunia maya. Sayangnya, beberapa kali yang lebih ditekankan tentang solusi yang tepat adalah mulai mengajarkan ‘kedewasaan’ ini.

Menurut saya, justru yang diperlukan bukan masalah pendidikan ‘kedewasaan’ itu pembaca sekalian. Materi apapun yang dilihat oleh anak Anda, seberbahaya apapun, tidak akan masalah selama anak Anda bisa menyikapi materi itu dengan baik. Pendidikan yang kurang adalah pendidikan moral yang sistematis dan aplikatif.

Misalkan begini, dulu saat saya SD, ada soal ulangan umum seperti ini:

Jika kamu menemukan dompet dijalan, maka yang kamu lakukan adalah…
a. mengambil isinya dan meninggalkan dompet di jalan
b. mengantarkan dompet tersebut ke kantor polisi
c. ditinggalkan saja

Mana yang kira-kira akan anak Anda pilih jika membaca soal di atas? Ya, tentu saja demi nilai ulangan yang baik, pilihan B lah yang tepat. Tapi, apakah demikian kenyataannya jika terjadi kasus yang sesungguhnya? Akankah, anak Anda, mengimplementasikan teori yang ia pelajari seperti seharusnya? Saya tidak yakin.

Sekarang, apa yang Anda takutkan? Mungkin Anda takut jika kemudian anak Anda berbuat yang tidak senonoh. Anda juga mungkin takut jika ia mempraktikkan apa yang ia baca, dengar, dan tonton tentang ‘kedewasaan’ di dunia maya. Juga Anda tidak akan mau jika sampai-sampai untuk mengikuti hawa nafsunya, anak Anda berkunjung ke lokalisasi.

Jika anak Anda memiliki kecenderungan yang benar, PASTI anak Anda tidak akan melakukan hal-hal di atas. Ini dia masalahnya pembaca sekalian, bagaimana cara menciptakan kecenderungan itu. Pendidikan ‘kedewasaan’ tidak akan menyelesaikan masalah. Anda membutuhkan metode yang lebih hebat dan tepat.

Baru-baru ini saya berkunjung ke toko buku dan kaget sekali ketika membaca sebuah judul buku (kalau saya tidak salah, atau mungkin serupa) “Ayo ajarkan anak Anda Seks”.

Justru dengan mengajarkan ‘kedewasaan’ ini, anak Anda malah akan lebih agresif dan rasa ingin tahu anak Anda akan semakin besar. Bukannya keselamatan mental anak Anda yang akan Anda dapatkan.

Anda butuh pendekatan psikologis. Saya tahu kalau saya bukan ahlinya. Anda akan lebih baik bertanya pada psikolog untuk menemukan metode yang tepat (walaupun, sebenarnya pendidikan ‘kedewasaan’ dipropagandakan oleh mereka). Manusia membutuhkan penyeimbang. Ketika seseorang memiliki prinsip dan keteguhan hati yang baik, walaupun ia melihat konten-konten berbahaya tersebut, ia tidak akan terpengaruh.

Saya adalah seorang muslim, karena itu, bagi Anda yang muslim, gunakan pendekatan Islam. Jika tidak, gunakan pendekatan rohani, yang mungkin bisa Anda dapatkan di sentral kepercayaan Anda.

Tentu apa yang saya tulis di atas adalah teori. Karena itu, saya lampirkan pula aplikasinya, tentang bagaimana mengontrol kegiatan berselancar anak Anda di dunia maya, yang mungkin bisa membantu.

Tidak ada cara lain, para orang tua! Tidak ada alasan bahwa Anda sudah terlalu tua untuk belajar IT (komputer). Atau, silakan pertahankan pendapat itu, dan lihatlah anak Anda di kemudian hari.

Berikut beberapa tips.

Pertama, lebih baik jika Anda memiliki koneksi internet di rumah. Mengapa? Saya pelanggan setia warnet, dan saya tahu betul isinya. Beberapa warnet bahkan ada yang menyediakan satu folder khusus yang isinya konten-konten berbahaya tersebut. Jangan biasakan anak Anda ke warnet, kecuali umurnya sudah cukup (yang dalam asumsi saya, cukup adalah usia anak kelas VIII SMP).

Koneksi internet sekarang biayanya semakin terjangkau. Anda bisa memilih paket-paket tertentu seperti paket 15 jam, 50 jam, atau unlimited. Harganya berkisar antara 50.000 sampai dengan 700.000 per bulan. Sesuaikan dengan kebutuhan Anda. Anda bisa kunjungi penyedia jasa internet di kota Anda seperti Telkom, Indosat, Telkomsel, dan sebagainya.

Jika Anda sudah melakukan langkah pertama, maka lanjutkan dengan langkah kedua. Letakkan komputer yang bisa mengakses internet di ruang tengah, atau di ruang keluarga, atau di mana saja asalkan Anda bisa mengontrol mereka. Metode ini mungkin efektif untuk anak Anda yang masih kecil.

Jika Anda memiliki anak yang umurnya lebih dari 13 tahun, biasanya mereka tidak senang jika metode di atas dipakai. Anak Anda pasti ingin menaruh komputernya di ruang pribadi seperti kamar tidur. Lalu bagaimana solusinya?

Setiap anak Anda membuka internet, di setiap browser yang mereka gunakan, ada fitur bernama History. Fitur ini akan merekam semua yang dibuka oleh anak Anda. Saya sarankan untuk menggunakan browser seperti Internet Explorer, Mozilla Firefox, Google Chrome, atau Opera. Biasanya Anda bisa mengakses fitur tersebut hanya dengan menekan tombol Ctrl + H. Atau jika tidak bisa, silakan jelajahi browser Anda, cari menu yang menyimpan fitur tersebut.

Fitur History pada Mozilla Firefox (Tekan Ctrl + Shift + H)

Fitur History pada Internet Explorer (Tekan Ctrl + H)

Apakah sudah cukup? Sayangnya belum. History dari suatu browser bisa dimodifikasi atau bahkan dihapus. Anda membutuhkan teknik yang lebih canggih lagi. Bagaimana?

Ada beberapa perangkat lunak yang bisa Anda pakai untuk mengontrol anak Anda. Pertama adalah stealth keylogger, yaitu perangkat yang bisa merekam tombol keyboard yang ditekan oleh anak Anda secara diam-diam. Perangkat ini akan merekam semua tombol yang ditekan saat diaktifkan. Selesai anak Anda browsing, cek saja file log-nya. Biasanya perangkat ini akan menyimpan rekaman tombol di suatu file teks yang bisa Anda baca.

Atau, Anda juga bisa menggunakan sebuah perangkat yang bisa merekam tampilan layar komputer Anda. Perangkat ini cukup menarik. Pasang perangkat ini saat anak Anda browsing, dan setelah selesai, Anda bisa melihat rekaman gambar tentang apa saja yang anak Anda lakukan di komputer.

Jika sepertinya masih sulit untuk membendung keinginan anak Anda ke warnet, maka Anda harus melakukan tindakan yang lebih sulit. Selalu periksa komputer dan flashdisk anak Anda. Jika Anda melihat anak Anda membawa flashdisk temannya, jangan sungkan untuk mengecek isinya juga. Ada kemungkinan teman-teman anak Anda menyimpan file-file yang berbahaya, walaupun sebenarnya file itu bukan untuk anak Anda.

Jangan tertipu dengan file-file yang disembunyikan. Anda harus sedikit belajar teknik manajemen file. Karena saya menggunakan Windows, saya tidak bisa memberikan saran untuk pengguna sistem operasi lain. Khusus untuk ini, harap bersabar karena saya sedang menyelesaikan sebuah e-book tentang manajemen file di Windows.

Semua yang saya ceritakan jangan Anda lakukan terang-terangan. Lakukan tips-tips tersebut saat mereka sedang tidak ada atau saat mereka sedang tidur.

Perlu saya beritahu, bahwa ada satu masalah lagi yang mungkin harus membuat Anda berpikir keras, yaitu masalah Password. Di Windows, suatu account user (pengguna) bisa diberi password. Selesailah semua jika Anda tidak bisa mengakses komputer anak Anda. Lalu bagaimana? Sayang sekali, Anda harus mempelajari teknik lanjutan yang disebut hacking, yang salah satu implementasinya adalah teknik membobol password!

Untuk ini, saya juga bukan ahlinya, tapi masih ada harapan. Silakan kunjungi toko-toko buku di kota Anda. Buku tentang hacking di Indonesia banyak sekali. Saya sarankan untuk menggunakan buku yang dikarang oleh Jasakom (http://www.jasakom.com) karena menurut saya buku dari mereka sangat mudah dimengerti.

Dunia IT memang terlalu luas. Anda jangan sampai ketinggalan. Hal yang penting adalah, ikuti perkembangan internet. Di Indonesia, ada fasilitas tertentu yang bisa memblokir halaman yang mengandung konten berbahaya, seperti DNS Nawala . Anda juga bisa belajar ‘menyelamatkan’ anak Anda di situs Internet Sehat. Bahkan juga ada istilah ber-Internet Halal. Hanya saja Anda harus menggunakan sistem operasi tertentu seperti Ubuntu Muslim Edition.

Banyak tips yang disediakan oleh orang yang peduli dengan masalah ini di internet. Anda bisa gunakan search engine (seperti Google) untuk mencari informasi yang Anda butuhkan.

Terlepas dari itu semua, tidak ada cara lain. Bangun karakter anak Anda dari sekarang! Jika terlambat, maka penyesalan akan datang di penghujung waktu. Semoga artikel ini bisa membantu.

Artikel selanjutnya, akan segera saya bahas tentang penggunaan perangkat lunak yang saya ceritakan di artikel ini. Mohon kesabarannya.

Sementara menunggu, Penulis bisa ditanya-tanyai di imam.hidayat92@gmail.com

Tuhan Tidak Adil?

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS Ali Imran: 190-191)

Saya sedang melihat-lihat arsip sms saya, dan kemudian terbacalah salah satu sms dari teman saya. Ia bertanya, mengapa ALLAH tidak adil? Apakah gagal itu memang sudah takdir saya? Mengapa ada orang miskin? Ingin mencoba menelaah, maka saya pergi ke warnet pagi-pagi untuk mengetik catatan ini.

Kita, sebagai manusia sering sekali egois dalam berpikir. Kelebihan manusia ini (berpikir) terkadang di salah gunakan. Dengan kemampuan berbahasa, begitu banyak orang mencerca-Nya. Saya tidak habis pikir.

ALLAH tidak adil? Saya agak kesal menjawab pertanyaan ini, tetapi semoga ini bisa memberikan penjelasan. Tidakkah setiap manusia merasakan keadilan-Nya di dunia ini? Kerapatan udara dibuat begitu pas agar manusia bisa dengan mudah menghirupnya. Bumi menjadi planet yang bisa dibumi dengan seluruh kekayaan alamnya. Fakta-fakta alam seperti tentang anomali air yang menolong makhluk hidup, dan masih banyak lainnya.

Masih bilang ALLAH tidak adil? ALLAH ‘menghajar’ semua penentang nikmatnya dalam Surat Ar-Rahmaan:
“Maka nikmat Tuhan manakah yang hendak kamu dustakan?”

Lalu, mengapa ada orang miskin? Apakah memang takdir mereka untuk miskin?

Lagi-lagi. Manusia selalu picik dalam memikirkan kemiskinan. Anda tahu Rasulullah SAW? Apakah ia orang kaya? Tidak bukan? Apakah kemudian ia hanya menjadi orang biasa? Rasulullah adalah manusia terhebat yang berhasil menyiarkan Islam ke seluruh dunia? Orang kayakah dia? Tidak!!

ALLAH telah menciptakan elemen-elemen masyarakat yang sangat baik sekali. Sekarang mari kita gunakan logika berpikir kita. Jika semua orang kaya, lalu, siapa yang menjadi pegawai? Siapa yang berkenan melayani masyarakat seperti tukang sampah, penjaga warung? Mana ada yang mau. Mereka akan tutup mata dan hanya ingin memuaskan nafsu dengan harta.

Sadarkah Anda, bahwa orang kaya bisa kaya karena orang miskin? Siapa yang akan menjual barang-barang kalau semua orang sudah kaya? Siapa yang mau menanam padi? Banyak pekerjaan yang ‘identik’ dengan orang miskin, padahal tanpa mereka, kita semua akan celaka.

Mari, sekali lagi, sadar, sadar, dan sadar. ALLAH maha Adil.

Saat kita merasa sedih, ketahuilah. Kita sedang diuji.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al-Baqarah: 214)

Hati-hati saudaraku. Kita sering tidak bersyukur. Padahal begitu banyak nikmat ALLAH yang selalu hadir dalam hidup kita setiap detik. Namun, masih saja kita mencerca-Nya hanya karena nafsu belaka.

“…..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim: 7)

Mari kembali merenungi diri kita. Semoga kita selalu diberi hidayah. Amiin ya ALLAh ya rabbal alamin.

Sebuah Perjalanan Rohani – Bagian 3

Inilah bagian terakhir cerita saya. Tentang pengalaman saya di sana.

Karena hari itu hari senin, maka semua santri (dan gurunya) berpuasa (puasa sunnah, senin-kamis). Ketika waktu berbuka tiba, saya dan ayah saya ikut makan (bukan berbuka) di sana, bersama para santri. Coba tebak, apa yang dihidangkan, dan bagaimana menyantapnya?

Dari dalam tirai, dibawakan 2 buah nampan, satu nampan disantap 5 orang. Makanannya? Sederhana sekali (kebetulan waktu itu mati lampu, tapi saya ingat apa yang saya makan). Nasi yang cukup untuk 5 orang, di atasnya diguyur sayuran berkuah (nangka, kacang panjang, tempe) dan kemudian, di bagian tengahnya di taruh 1 daging ikan (tidak terlalu besar, separuh badan ikan saja).

Saya baru pertama kali mengalami hal yang demikian. Makanan yang sangat sederhana, tetapi tidak terasa karena kami semangat menyantapnya di atas satu nampan. Ya, simbol ukhuwah yang sangat kuat!

Bayangkan, kalau saya rakus dan memakan semua dagingnya, maka tidak ada yang kebagian. Masing-masing harus mengontrol jumlah nasi dan lauk yang dimakan agar semuanya kebagian. Sebuah latihan rohani yang bagus sekali untuk mengontrol ketamakan manusia.

Makan di sana pakai apa? Sendok? Tidak!! Tangan. Bayangkan, untuk orang-orang tertentu (yang mungkin bisa dikatakan orang kaya) pasti jijik! Tangan berlima, mengobok-obok 1 nampan. Mungkin terlihat sangat tidak menyenangkan sekali bagi mereka. Padahal, dalam hal yang demikian, tersimpan simbol persaudaraan yang kuat.

Ya, sesama muslim itu, kata nabi, harus saling menguatkan. Dalam hadits-nya, nabi diriwayatkan ketika mengibaratkan kekokohan muslim, beliau menyelipkan jari-jari tangan kanan ke jari-jari tangan kiri, dan kemudian menggenggamnya. Coba Anda bayangkan, bukankah susah untuk melepaskan kedua tangan Anda jika posisi tangannya seperti itu?

Itulah kekokohan Islam. Guru SD kita pun sering bilang, satu lidi bisa dipatahkan dengan sangat mudah. Tapi, bagaimana jika puluhan lidi, ratusan lidi, ribuan lidi? Yang ada tangan Anda yang patah.

Sebuah kekokohan antar umat muslim. Saya yakin, banyak orang yang beragama Islam, tetapi tidak merasa sebagai salah satu kekuatan Islam.

Kita adalah umat terakhir, dari agama yang sempurna. Semua pertanyaan memiliki jawaban, dan biasanya kitalah yang karena tidak memiliki jawaban menjadi goyah dari keimanan. Pertanyaan yang berbahaya seperti beberapa yang telah ditanyakan oleh seorang intelektual seperti itu, hanyalah keluar dari rasa ingin tahu yang tidak dilandaskan keimanan.

Semua yang ada di dunia, itu pasti mendukung ALLAH, karena Ialah yang menciptakannya, dan hitungannya amat sempurna, lebih sempurna dari hitungan para Scientist. Science sendiri yang sering dianggap bertentangan dengan agama tentu tidaklah demikian. Science adalah ilmu untuk menggali bentuk-bentuk kekuasaan ALLAH, karena yang dilakukan manusia, adalah memakai yang diciptakan tuhan.

Saya teringat sebuah kata-kata dari guru di pesantren itu:

“Anda tahu Iblis? Iblis itu dikutuk sampai hari kiamat karena ia menentang ALLAH 1 kali saja, yakni tidak mau bersujud kepada Adam”

Hanya 1 kali menentang, Iblis dikutuk hingga hari kiamat. Na’udzubillah, Anda pasti tahu maksud saya bukan? Berapa kali kita telah melanggar perintah ALLAH?

Maka, tidak pantaslah seorang manusia untuk sombong dihadapan Tuhannya.

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al-Israa: 37)

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)

“(Dikatakan kepada mereka): ‘Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong’.” (QS Al-Mu’min: 76)

Semoga kita diberi hidayah selalu hingga jasad dan ruh berpisah dari dunia ini. Amiin ya rabbal ‘alamin

Komentar Anda akan saya terima dengan tangan terbuka.

Sebuah Perjalanan Rohani – Bagian 2

Nah, saya melanjutkan catatan saya dari bagian sebelumnya. Kali ini tentang kehidupan di pesantren itu.

Para santri di sana, sehabis adzan Ashar, mereka segera membuka Al-Qur’an, mengaji tanpa henti, hingga pukul 5 lewat. Mengaji 1 jam lebih nonstop. Wah, mereka luar biasa. Kadang kita baru mengaji 1 halaman Al-Qur’an sudah mengantuk dan segera mengucapkan “Shadaqallahul ‘adzim”. Para santri di sana, yang menurut taksiran saya sudah berumur 10 tahun lebih, hanya 4 orang. Sisanya masih kecil-kecil dan mereka rajin sekali mengaji.

Sesudah mengaji, mereka pindah ke rumah salah seorang guru mereka, untuk mendengarkan pembacaan kitab. Tidak, bukan hanya mendengarkan, tetapi juga menulis apa yang mereka dengar. Suasananya khidmat sekali, berbeda dengan anak-anak SD sekarang yang sukanya ribut saja di kelas saat guru mendengarkan. Di sana, para santri kecil terasuh dengan baik.

Guru mereka membacakan suatu kitab yang hurufnya arab semua! Tidak ada tulisan latinnya sama sekali. Dan, sambil membacakan, guru tersebut langsung menerjemahkan. dan para pendengarnya, termasuk saya yang masih awam mengerti dengan baik.

Di antara isinya, ada satu yang membuat saya tersindir (sekaligus tersentuh). Kira-kira begini isinya (dengan beberapa adaptasi dari saya):

“Salah satu sabda rasul, jika umatku bersusah payah hanya untuk dunia, maka hilanglah wibawa Islam (saya lupa, antara hilanglah wibawa, atau dicabutlah pemahaman terhadap Islam, akan coba saya cari hadits-nya yang benar).

Orang-orang Islam sekarang sering sekali bersusah-susah hanya karena urusan dunia. Mereka sibuk banting tulang, karena urusan dunia saja. Akibatnya, hilanglah wibawa Islam. Dulu, para sahabat, bersusah-susah karena Islam. Hingga Islam bisa tersebar ke seluruh dunia.

Karena bersusah-susah oleh sebab dunia saja, maka tidak hanya wibawa saja, pemahaman terhadap firman ALLAH pun jadi berkurang. Orang sekarang menafsirkan Al-Qur’an sak enake dewek (se-enaknya sendiri, gurunya adalah jebolan Pesantren Lirboyo, maklum). Pemahaman itu penting, sampai-sampai ulama membuat suatu ibarat.

Ada seorang ayah pulang dari sawah pada sore hari menjelang maghrib. Sesampainya di rumah, sang ayah berkata pada dua anaknya, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak mengambilkan ember berisi air untuk berwudhu, sedangkan si adik mengambilkan air segelas untuk minum. Sesudah itu, kemudian ayahnya berkata lagi, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak membawa air segelas untuk minum, sedang adiknya membawa air satu bak untuk ayahnya. Adzan kemudian berkumandang, dan ayahnya berkata lagi, “Nak, tolong ambilkan air”. Sang kakak membawa air satu bak dan adiknya membawa air seember.

Nah, apa maksudnya? Sang adik lebih paham dari kakaknya. Saat ayahnya pulang, tentulah sang ayah haus, air segelaslah yang dimintanya. Sesudahnya, tentulah biar segar kembali, ayahnya harus mandi, dan saat adzan berkumandang, ayahnya harus wudhu untuk shalat. Betapa pemahaman yang benar sangatlah penting, karena sangat berpengaruh sekali.”

Saya sedih dan tersentuh mendengarnya, betapa sedikit mungkin dari kita yang memahami Al-Qur’an dengan benar.

Saya ingin membahas sesuatu, kalau Anda berpikir tentang suatu pesantren, bagaimana kehidupannya? Ya, bosan! Mereka sibuk mengaji, shalat, belajar, mengaji lagi, dst. Sebuah kehidupan yang monoton. Wah, istilahnya salah, yang benar, kehidupan yang istiqamah (teguh). Alangkah bosan, mengapa Islam seolah-olah mengajarkan sesuatu yang kaku? Nah, mari saya ingin berbagi sedikit pemikiran.

Anda tahu matahari? Ia terbit pagi dari timur, terbenam sore di barat. Begitu terus setiap hari sampai akhir hayatnya nanti. Dengan cahayanya, tumbuhan bisa hidup, dan hewan bisa makan. Tumbuhan bisa memasak makanan berkat matahari, dan matahari juga berperan dalam mengontrol siklus hujan.

Nah, bukankah matahari istiqamah? Apa jadinya kalau matahari tidak istiqamah? Anda mungkin berkata, orang yang kaku butuh refreshing. Oke, coba apa yang terjadi kalau matahari refreshing? Dia capek menyinari bumi dan minta refreshing, habislah kita semua!

Banyak yang istiqamah di bumi ini, udara, awan, air, tanah, apa jadinya kalau mereka tidak istiqamah?

Ke-istiqamah-an mereka membawa kehidupan dan keselarasan di bumi. Air, tanah, udara, matahari, dan yang lainnya saling memberi manfaat, karena ke-istiqamah-an mereka.

Begitulah, ke-istiqamahan para santri dalam belajar Al-Qur’an akan membawa cahaya bagi mereka dan suatu saat mereka akan membawa cahaya Islam itu untuk bersinar lebih terang dan menjangkau lebih luas lagi. Bagaimana, Anda masih bilang Islam kaku dan membosankan?

Itulah kenapa ajaran Islam meminta pengikutnya agar istiqamah, karena ke-istiqamah-an membawa sebuah manfaat yang besar. Shalat kita, mengaji kita, zakat kita, akan membawa hal yang baik jika kita istiqamah, seperti matahari yang istiqamah menyinari bumi dan membantu kehidupan yang ada di dalamnya. Kita yang istiqamah mengikuti Islam, akan sangat beruntung.

Selanjutnya, tentang pengalaman saya di sana. Saya usahakan cepat selesai. Semoga apa yang saya tulis mengena di hati Anda.

Komentar Anda, saya terima dengan sangat terbuka.

Sebuah Perjalanan Rohani – Bagian 1

Several times ago (ehem!) beberapa note saya memuat jawaban dari perdebatan tentang argumen Pat T. Larkin yang sibuk menilai Islam tanpa mengetahui jati diri Islam yang sebenarnya. Kini, dibanding sibuk mendebat orang yang telah terlanjur terkekang dengan nafsu intelektual, saya rasa lebih baik kita membahas keindahan Islam. Tidak ada gunanya kita mendebat orang seperti itu, karena ALLAH sendiri telah berfirman :

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).” (QS Ar-Ruum: 53)

Barangkali, kita doakan saja agar Pat T. Larkin (dan orang-orang yang serupa dengannya) mendapat hidayah dari ALLAH.

Catatan saya kali ini mungkin agak panjang kalau langsung ditulis sekaligus. Karena itu, mungkin saya bagi menjadi 3 bagian. (Dibaca semuanya ya, agar inti dari apa yang ingin saya sampaikan tidak terputus)

Hari senin, 10 Mei yang lalu, saya dan ayah saya berangkat ke sebuah masjid di daerah Pagar Dewa. Saya berkesempatan hadir di sana hanya selama 4 jam, tetapi begitu banyak sesuatu yang membuat saya sadar dan berpikir kembali, betapa ALLAH telah mengatur orang-orang yang dikehendakinya untuk beriman, berpikir dengan sangat baik.

Deskripsi daerah :

Masjid di daerah itu ternyata juga merupakan sebuah pesantren kecil. Daerahnya agak sepi, dengan pohon-pohon dan rumput yang masih terawat oleh alam. Suasananya sunyi sekali, hanya terdengar suara santri anak-anak mengaji. Saat mereka selesai, suara benar-benar hanya berasal dari alam.

Saya biasanya melihat perempuan bercadar hanya lewat TV, tapi sekali ini, saya benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri.

Murid yang ada di sana hanya sekitar 15 orang dengan umur antara 7 – 14 tahun (taksiran saya). Laki-lakinya ternyata adalah penghafal Al-Qur’an, dan beberapa dari mereka telah menghafal 4 juz. SubhanALLAH, berapa hafalan kita?

Murid perempuannya juga ada, dan mereka semua menggunakan baju muslim hitam dengan cadar! Semua perempuan yang ada di situ bercadar. Benar-benar tertutup, saya tidak bisa menerka bagaimana wajah mereka semua.

Rumah-rumah di sana dindingnya hanya dari papan. Sederhana sekali, dengan jendela tanpa kaca. Bingkai jendelanya dari kayu dan jendelanya juga dari kayu. Saya tidak bisa mengintip dari luar, dan ketika di dalam, melihat keluar juga tidak bisa (tapi tentunya, jendelanya bisa dibuka).

Betapa mereka terlihat sekali berusaha mengamalkan sunnah dengan baik. Mengapa mereka memakai cadar? Pembaca sekalian, jika Anda adalah seorang perempuan, ketahuilah bahwa banyak mata-mata nakal lelaki yang terkadang tidak disadari oleh Anda. Mereka menjaga itu, laki-laki pasti tidak bisa menerka-nerka, karena mereka benar-benar tertutup auratnya.

Banyak orang yang mempermasalahkan cadar dengan mengatakan bahwa penggunaannya hanyalah kaum-kaum yang ekstrim dan berat. Bahkan ada yang mengatakannya kaum sesat dulu. Akhirnya, mereka (dan Islam) dijauhi, bahkan sempat ada anggapan yang tidak-tidak terhadap perempuan bercadar.

Alangkah aneh, saya tidak habis pikir. Apakah perempuan-perempuan yang memamerkan aurat di khalayak umum lewat TV jauh lebih baik? Apakah mereka yang berkeliaran keliling kota hanya dengan celana pendek dan baju ketat lebih terhormat? Mengapa mempermasalahkan cadar? Mereka (yang menggunakan cadar) hanyalah berusaha mengamalkan Al-Qur’an dan sunnah. Seharusnya mereka mempermasalahkan perempuan yang membuka aurat!!

Lalu, tentang mereka yang hidup sederhana sekali. Jendela dan model rumah tersebut hanyalah sebuah usaha untuk menghindari fitnah dan gibah. Jendela dan spot-spot yang transparan, selalu mengundang fitnah dan gibah. Tetangga yang sukanya menggunjing, saat melihat sesuatu di dalam rumah orang lain, sering menjadikannya topik dari gosip mereka. Dengan model seperti ini, amanlah mereka dari sebagian lubang masuknya fitnah dan gibah.

Wah, sebenarnya masih banyak. Saya usahakan secepatnya selesai. Bagian selanjutnya tentang kehidupan di pesantren. Banyak yang ingin saya bahas, dan semoga mengena di hati pembaca.

Komentar-komentar Anda, saya terima dengan sangat terbuka.